Kamis, 29 Oktober 2009

AAC


Kalau anda menanyak kepada saya, novel apa yang sudah berapa pernah saya baca selama beberapa tahun terakhir?

Dengan malu saya akan menjawab sejak saya lulus kuliah tahun 1996 hingga hanya ada dua novel yang berhasil saya khatamkan membacanya!
Apa nama kedua novel itu?

Yang pertama adalah The Davinci Code karangan Dan Brown dan Ayat-ayat Cinta (AAC) tulisan Habiburrahman El Shirazy.

Tetapi yang paling spektakuler adalah AAC! Karena novel tersebut saya selesaikan dalam semalam, mulai sore selepas pulang dari kantor hingga jam 2 malam. Tentu diselingi dengan makan dan solat..hehehe. Masih ada tambahan lagi, novel itu saya baca bareng-bareng dengan istri saya! Luar biasa!

Mengapa AAC begitu memikat saya dan istri untuk membacanya?

Bagi saya cerita AAC begitu hidup dan mengalir – seolah-olah saya menyaksikan sendiri para pelaku-pelakun dalam novel itu!

Saya benar-benar kagum dengan Kang Abik – begitu panggilan Habiburrahman – bagaimana dia begitu piawai menggiring pembaca dalam novelnya. Saya juga penasaran bagaimana sih proses membuat novel yang seperti itu?

Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan jawabannya ketika oleh teman-teman Forum Lingkar Pena (FLP) Malang saya diminta menemani Kang Abik yang tur ke Malang dan Pasuruan. Selama mengikutinya, baik dalam perjalanan maupun ketika talkshow saya jadi tahu bagaimana Kang Abik membuat tulisan yang begitu hidup.

Kuncinya totalitas dalam menjiwai setiap karakter yang ditulisnya atau bahasa kerennya immerse ato nyemplung!

Diceritakan oleh Kang Abik bagaiman dia juga ikut menangis ketika tokoh yang dikarangnya sedang mendapat cobaan yang berat, begitu juga dia juga menjadi geram ketika ada tokoh yang berbuat sewenang-wenang.

Ya kedengarannya aneh bahkan lucu, wong dia sendiri yang nulis dan mengarang jalan ceritanya, kok dia bisa sedih dan geram! Tetapi sekali lagi itulah tuntutan penjiwaan dari tulisan yang dia buat. Bagaimana orang lain bisa teraduk-aduk emosinya, jika dia sendiri tidak bisa merasakan!

Saya kira proses penjiwaan yang totalitas juga berlaku dalam semua profesi. Semakin total kita menjiwai apa yang kita lalkukan maka semakin baik hasil yang dicapai, insyaALlah.

Apakah juga begitu dengan menulis?

Saya kira iya!

Menurut saya ketika kita menulis dengan penuh penjiwaan, seolah-olah menulis untuk diri kita sendiri, saya juga yakin orang lain bisa merasakan sebagaimana yang kita rasakan dengan tulisan kita. Kalau kita saja berkerut-kerut dan susah memahami kalimat-kalimat yang kita tulis sendiri, apalagai orang lain? Begitu juga sebaliknya. Jika dengan sekali baca kita paham maka insyaALlah orang lain juga demikian

Anda pengin bukti?

Coba aja tulis sesuatu!



***

Tulisan ini adalah rangkaian tulisan dalam kolom Writing Spirit di situs Sukses Tersenyum

6 komentar:

lina on 29 Oktober 2009 23.26 mengatakan...

AAC emang mantapp Pak Heri, saya juga membaca dalam waktu semalam, karena ga mau jalan ceritanya terpotong + penasaran dengan endingnya.

Ternyata Kang Abik sendiri sampai menangis yaa? saya sendiri menangis semalam pas baca buku ini Pak :D

Selamat belajar blogspot :)
gampang koq Pak & untuk komentar bisa lho dibuat nyambung dengan posting, jadi ga perlu terpisah seperti ini... biar userfriendly Pak...maaf sekedar saran :)

Omiyan on 29 Oktober 2009 23.41 mengatakan...

waduh saya juga malu masalahnya beli novl iya baca kagak hahahahaha, terkadang semangat buat belinya tapi kalau baca muales setengah mati

atmakusumah on 30 Oktober 2009 06.15 mengatakan...

assalamu'alaikum...
Mantap pak, makin berkibar aja nih...
ternyata baru selesaikan dua novel, tapi lgsung ketemu dgn penulisnya, pengalaman yang berkesan banget mas...
Blognya bagus mas, warna yg berbeda...nuansanya lain masuk disini...tukeran link mas ya...

wasalam

jalandakwahbersama on 30 Oktober 2009 23.25 mengatakan...

Assalamu'alaikum,
Sata tidak bisa banyak berkomentar, karena saya memang kurang suka baca novel. Saya lebih suka membaca buku lainnya dan karena saya memang hobi baca, biasanya tidak memerlukan waktu lama menyelesaikan bacaan saya. (Dewi Yana)

hanifarrul on 31 Oktober 2009 16.14 mengatakan...

Ada novel yang lebih menarik dari AAC,menurutku yaitu novel yang sulit ditebak akhir ceritanya. Mungkin mas sudah baca, "Ronggeng Dukuh Paruk" karya Ahmad Tohari. Alur ceritanya sangat natural dan normal. Banyak nilai-nilai kehidupan yang dituangkan disana. Dan kita bisa mendapatkannya tanpa merasa digurui oleh sang Penulis. Mungkin karena penyampaiannya secara tak kasat mata sepertinya berjalan dengan realita yang sehari-hari kita liat dan dapati di masyarakat. Dan aku hanya bilang Wouw...keren!

mahardhikadewi on 2 November 2009 19.54 mengatakan...

hmmmm...... film nya aja bagusss...

kerennnn.... AAC, kereenn..

Poskan Komentar

Monggo silahkan komentar di sini :D

 

Related Resources

Site Info

Powered by FeedBurner

Followers

Writing Spirit! Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template