Minggu, 01 November 2009

Rejeki

…ketika rejeki hanya diartikan materi, betapa sempitnya kehidupan ini


Teman saya yang juga ketua JPMI Malang – Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia - bercerita tentang alasan mengapa dia banyak membantu saudara-saudara -- yang secara finansial mungkin kurang beruntung – untuk tinggal dan membantu usahanya. Beberapa diantara bahkan dibiayai ongkos kuliahnya.

”Alhamdulillah dengan adanya anak-anak di sini, saya banyak mendapatkan rejeki…?” katanya sambil menyebut salah seorang saudaranya yang dibiayai kuliah.

”Bagaimana bisa begitu..?” tanya saya penasaran


”… ya usaha saya bisa lancar, saya dapat banyak dapat order, saya dan keluarga alhamdulillah selalu sehat.. coba kalau itu semua dinilai dengan uang sudah berapa?” jelasnya pada saya.

Saya hanya bisa manggut-manggut mendengarnya.

”Kita ini khan ibarat pipa air, semakin besar pipa yang kita alirkan untuk orang lain, maka semakin besar juga khan airnya. Begitu juga rejeki, semakin banyak yang kita bagi untuk orang lain, khan semakin banyak juga yang kita terima…” begitu terangnya mengenai konsep sedekah yang dia pahami kepada saya.

Saya jadi teringat, cerita istri saya saat mengunjungi – Abah (ayah) dari salah seorang teman kantornya. Abahnya seorang kiayi terkenal di daerah Malang - saat itu sedang sakit. Meski sakit, namanya juga kiayi, ya tetap saja memberi nasihat kepada pengujungnya. Nasihatnya adalah bertema sedekah, lha kok intinya persis dengan apa yang dikatakan oleh teman saya tadi. Analoginyapun juga sama memakai pipa air. Sekedar tahu saja, Bapak kiayi tadi mempunyai yayasan yang salah satunya bergerak di bidang pendidikan. Tapi ada istimewa dari pendidikan yang dikelola oleh yayasannya. Semua biaya pendidikan di sana GRATIS tentu ini luar biasa, disaat sekolah negeri dan swasta lainnya berlomba-lomba menaikkan tarif SPP-nya disitu malah gratis. Meski gratis gedung sekolah dan peralatan belajarnya serta kesejahteraan gurunya lumayan baik.

Selain bicara masalah sedekah, sang Kiayi juga bernasihat tentang rejeki yang harus senantiasa kita syukuri,

”Coba perhatikan berapa harga satu tabung oksigen ini…” katanya sambil menunjuk tabung oksigen yang berada disamping tempat tidurnya.
”Ratusan ribu khan? Nah, sekarang sampean tiap hari gratis-tis bisa bernapas tanpa tabung oksigen ini…” lanjutnya. ”Berapa ratus juta kalau sampean hitung sejak sampean lahir…”

Pembaca sekalian. Begitulah konsep rejeki yang juga saya pahami. Rejeki bagi saya tidak semata-mata berupa materi. Keluarga yang baik, teman, kesehatan dan kesempatan untuk bekerja dan bahkan menulis secara rutin di blog ini juga adalah rejeki yang jika dinilai secara materi itu semua berharga jutaan rupiah juga!

Percayalah dengan menulis juga mendatangkan rejeki! Asalkan konsep rejeki anda sama dengan saya, dan apa yang anda tulis itu banyak manfaatnya bagi orang lain, insyaAllah pasti anda akan dapatkan!

Saya hanya bisa mencontohkan yang saya alami saja: dengan menulis saya bisa dapat banyak kenalan, mulai dari pimpinan redaksi koran yang cukup dikenal di kota saya , penulis Ayat-ayat Cinta dosen kocak yang produktif nulis sampai dengan tawaran menjadi pelatih penulisan di beberapa tempat dan kota. Tentu masih banyak yang lain kalau mau dirinci satu persatu.

Nah, itu jugalah yang menjadikan salah satu AMBaK dalam menulis.

Anda tertarik mendapatkan banyak rejeki?

Menulislah!


**********

Tulisan ini adalah rangkaian tulisan dalam kolom Writing Spirit di situs Sukses Tersenyum

13 komentar:

adams on 1 November 2009 19.19 mengatakan...

inspiratif sekali... thanks and salam kenal.

Lina on 2 November 2009 00.26 mengatakan...

setuju Pak..seluruh hidup ini adalah rezeki
hanya orang yang pandai bersyukur yang mampu memahaminya, jika tidak maka sedikit saja ada masalah, akan membuat hati jadi tidak bahagia.

thanks postingnya, memberi pencerahan bagi saya :)

Nisa on 2 November 2009 18.58 mengatakan...

^_^ iku taneman sri rejeki :D

Mrs.TITIK on 4 November 2009 22.05 mengatakan...

aduh posting yang bagus banget , bener .. rejeki itu bukan hanya materi temen ygbaik keluarga yang dan kesehatan ... juga rejeki .. sangat menarik

Thx artikelnya
Salam Sukses

elmoudy on 5 November 2009 01.38 mengatakan...

hmm... rezeki lancar kalo rajin menulis..
wah boleh jug aneh nasehatnya
makasih ya bro..

atmakusumah on 5 November 2009 02.11 mengatakan...

setuju mas, saya punya seorang adik yang kadang kambuh penyakitnya, saat dia sehat dalam waktu yang lama (mudah2an sehat selalu) , itu kami syukuri sebagai sebuah rejeki dari Allah....Nah kalau dari menulis dapet rejeki, bagi2 mas ilmunya...

Didien® on 5 November 2009 22.13 mengatakan...

nahhhhh,,,itu dia byk yg tidak menyadari bahwa ketika bernafas adalah rizqy dari Allah...
betulkan pak ?


salam, ^_^

Caride™ on 5 November 2009 22.14 mengatakan...

Nasehatnya bermanfaat bgt..terasa di dalam masjid hari jumat sedang ada khotbah hihihihi

d-Gadget™ on 5 November 2009 22.15 mengatakan...

postingan ini membuat saya semakin ada pencerahan agar senantiasa bersyukur dan bersyukur...alhamdulillah

Caridetik™ on 5 November 2009 22.16 mengatakan...

rizqy itu kan selalu datangnya dari Allah melalui jalan yg beraneka ragam...intinya tetap slalu bersyukur apapun bentuknya rizqy itu..amin

Edi Psw on 9 November 2009 02.06 mengatakan...

Ilmu itu juga termasuk rejeki lho

sawali tuhusetya on 9 November 2009 06.08 mengatakan...

wah, tulisan yang sangat reflektif bagaimana memaknai arti rezeki. jadi makin bersemangat nih membangun semangat berbagi dan bersilaturahmi. mantab.

mahardhikadewi on 18 November 2009 00.36 mengatakan...

mudah dipahami n ngena banget nad...
hehe..tp yg pasti ini bukan nadia kan?? tapi ayah haha...
siyap pak ketum....
napa nulis di blogspot, mesti login dulu nih..doohh...
jadi semangat nulis...selain nambah rezeki, temen dll juga namabah pahala...krn dengan berbagi ilmu yg baik bisa jadi ladang amal yg baik pula :mrgreen:

Poskan Komentar

Monggo silahkan komentar di sini :D

 

Related Resources

Site Info

Powered by FeedBurner

Followers

Writing Spirit! Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template